liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

Anak Mau Sukses & Bahagia? Jangan Lakukan Ini ya Ayah-Bunda

Anak Mau Sukses & Bahagia? Jangan Lakukan Ini ya Ayah-Bunda

Jakarta, CNBC Indonesia – Kemampuan kognitif anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan yang membentuknya, termasuk orang tua yang menjadi tempat pertama anak belajar. Sudah menjadi kodrat orang tua untuk bertanggung jawab dalam mendidik anaknya agar hidupnya sukses dan bahagia.

Margot Machol Bisnow, penulis dan pakar parenting dari Amerika Serikat (AS), mewawancarai 70 orang tua yang membesarkan anaknya hingga menjadi orang dewasa yang sukses. Hasil penelitiannya itu ia dokumentasikan dalam buku ‘Raising an Entrepreneur: How to Help Your Children Achieve Their Dreams’.

Secara umum, Margot menemukan bahwa komunikasi orang tua berperan besar dalam membentuk masa depan anak. Berikut adalah ungkapan yang tidak pernah digunakan oleh orang tua dari anak-anak yang tumbuh menjadi sukses:

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

1. “Saya tidak mempercayai Anda, jadi saya memeriksa pekerjaan rumah Anda dan mengoreksi kesalahan apa pun.”

Semua orang tua harus menekankan pentingnya tanggung jawab sejak usia dini. Bimbing si kecil untuk bertanggung jawab, menghadapi masalahnya sendiri, belajar dari kesalahan dan lebih percaya diri saat dewasa nanti.

Tapi, tanggung jawab ini bukan hanya tentang pekerjaan rumah sekolah. John Arrow, pemilik Mutual Mobile, sebuah perusahaan teknologi terkemuka, mengaku ketika duduk di bangku kelas lima, ia dan teman-temannya menulis surat kabar sekolah, yang langsung ludes terjual. Namun, mereka gagal melakukan pengecekan fakta.

Kepala sekolah sangat marah, dan teman-temannya membuat masalah dengan orang tua mereka. Tetapi orang tua John tertawa dan menyuruhnya untuk memperbaiki kesalahannya.

“Mengetahui bahwa orang tua saya akan selalu mendukung saya, bahkan ketika sekolah menentang saya, membuat saya bekerja lebih keras untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka membuat keputusan yang tepat dengan mempercayai saya,” kata John.

2. “Ibu/Ayah akan memberimu uang jika kamu mendapat nilai bagus.”

Memberikan uang ketika anak mendapat nilai bagus, atau menyelesaikan tugas sekolah lainnya, tidak dianjurkan. Ketika orang tua hanya fokus pada prestasi dan nilai memuaskan di sekolah, potensi anak akan layu sebelum tumbuh.

Nilai dan prestasi di sekolah memang penting, namun jangan lupa bahwa orang tua juga perlu mendukung perkembangan berbagai aspek kehidupan lainnya agar anak tumbuh menjadi pribadi yang positif.

3. “Ibu/Ayah memberimu uang saku tambahan agar kamu bisa membeli apapun yang kamu mau.”

Efek negatif dari memanjakan anak berasal dari kebiasaan orang tua dalam memberikan segala yang diinginkan anak. Kebiasaan ini secara tidak langsung menyebabkan anak tidak mampu mempelajari konsep dan sikap tanggung jawab.

Anak yang terbiasa dimanjakan dengan uang akan menjadi pemalas, tidak bersemangat, bahkan marah jika keinginannya tidak terpenuhi. Akhirnya mereka akan tumbuh tanpa kematangan emosi, dan menghadapi masalah sebagai orang dewasa.

Yang terpenting adalah memberikan pemahaman kepada anak tentang penggunaan uang jajan dan memberikan fasilitas kepada anak untuk menabung.

4. “Jangan bermain sepulang sekolah sampai nilaimu naik.”

Banyak orang tua yang tidak memahami keinginan anaknya dan malah memaksakan keinginannya sendiri.

Orang tua harus mendukung keinginan anaknya. Karena kegiatan bermain membantu anak belajar bersosialisasi, membuat aturan dan kesepakatan. Dengan begitu, anak memiliki kesempatan untuk belajar hingga mampu mengambil keputusan.

[Gambas:Video CNBC]

(pgr/pgr)