liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Dukung Harga Acuan Sawit, Pengusaha Kasih Catatan Ini ke Pemerintah

Gandeng Jepang, Holding Perkebunan Bikin Pabrik Bahan Bakar dari Limbah Sawit

Jakarta

Produsen sawit mendukung rencana pemerintah menetapkan harga acuan sendiri untuk komoditas sawit. Plt Ketua Dewan Sawit Indonesia Sahat Sinaga mengatakan hal ini penting untuk kepastian harga sawit dalam negeri.

“Soal Juni diselesaikan soal bursa harga sawit Indonesia sangat bagus. Saya kira bursa sawit butuh IT (telekomunikasi) di sana,” kata Sahat saat ditemui dalam Media Conference Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (25/ 1/2023). .

Menurut Sahat, ada beberapa catatan bagi pemerintah dalam menetapkan harga acuan sawit. Ia mengingatkan, tidak boleh ada pelaku bisnis atau pengusaha lokal yang terlibat. Sahat berharap bursa sawit bisa dikelola oleh pihak independen.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Maka tidak bisa dipengaruhi, misalnya Anda pengusaha lokal yang memperkirakan jual segitu, beli mahal, tapi jual Rp 14.000, berarti ada selisih. Jadi kalau eksportir memberi harga lebih tinggi, mereka akan membelinya. Ini terus berlanjut, sehingga pelaku lokal pun bisa ikut. Jadi, jangan jadi pengurus malah jadi pelaku usaha. Jangan, supaya dia punya rasa kemandirian. Itu yang penting,” ujarnya. dijelaskan. .

Ia juga mencontohkan perusahaan bursa yang penurunannya tidak optimal dalam menetapkan harga acuan nasional untuk sawit. Sahat mengungkapkan, hal itu terjadi karena ada pemain yang seolah-olah pengusaha.

Menurut Sahat, adanya harga acuan sawit nasional akan menguntungkan pengusaha, karena ada kepastian harga. Jadi, dia tidak lagi bergantung pada harga di luar negeri yang menurutnya terkadang berbeda dengan di dalam negeri.

“Jadi kita bisa merasakan, misalnya ini permintaan tinggi tapi Bursa Rotterdam menjaga harga tetap rendah. Siapa yang diuntungkan dari ini? Kita dalam situasi yang buruk, maka itu saja yang perlu dipertahankan,” jelasnya.

“Jadi, dalam konteks harga saham internasional, murni supply and demand. Kalau supply naik, harga turun, maka otomatis turun (harga) adalah excess supply. Tapi di sisi lain, itu harus ditentukan,” dia melanjutkan.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung juga mendukung adanya bursa sawit dalam negeri. Menurutnya, negara lain juga harus bisa merujuk harga dari Indonesia.

“Setidaknya kita melihat sekilas, tidak perlu ikut-ikutan. Dengan forward price akan memudahkan kita menerjemahkan harga yang sebenarnya. Fokus kita selalu pada harga KPBN, Rotterdam, harga Malaysia yang sudah tidak memberi kami cukup kepastian,” katanya.

Ia mendorong pemerintah segera merealisasikan pasar sawit ini. Karena selama ini Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar hanya mengacu pada harga negara lain.

“Faktanya sejak tahun 1990-an sudah terlihat sawit ada di Indonesia, tapi sudah lama terbengkalai. Jadi, bursa berjangka ini harga yang ditunggu petani sawit Indonesia. Karena ini akan merangsang kita to do better. Kalau saya lihat itu sangat penting dan mendesak,” pungkasnya.

Tonton Video “Kantor Industri Sawit di Lampung Dibakar Massal”
[Gambas:Video 20detik]

(di sana/zlf)