liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77

Pinjol Menjamur, Alasan OJK Kerek Modal Disetor Rp25 M

OJK menaikkan batas modal disetor perusahaan pinjol jadi Rp25 miliar. Angka itu dianggap bisa mencegah pinjol dari kerugian dan jumlahnya yang menjamur.


Bogor, CNNIndonesia

Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ogi Prastomiyono mengatakan batasan modal disetor perusahaan pinjaman online (meminjam) Rp 2,5 Miliar di awal perkembangan industri ini membuat pinjaman menjamur dimana-mana.

Hal ini karena jumlah modal yang disetor dianggap relatif kecil. “Setelah itu, kami akan menambah modal menjadi Rp 25 miliar,” ujarnya di Sentul, Bogor, Jumat (12/2) lalu.

Namun, kata Ogi, aturan modal disetor Rp25 miliar itu wajib bagi perusahaan pemberi pinjaman baru sesuai POJK No. 10 Tahun 2022 tentang Pembiayaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Satu lagi, lanjut Ogi, modal disetor Rp 25 miliar itu dimaksudkan untuk mencegah fintech peer to peer lending (P2P Lending) atau pinjaman dari kerugian.

“Kalau moratorium (pembukaan izin perusahaan pinjaman baru) dibuka, syaratnya harus punya modal Rp 25 miliar. Karena kalau pinjam, 2-3 tahun pertama pasti rugi,” ujarnya. dijelaskan. Ogi.

Dia menjelaskan setengah dari modal disetor atau Rp 12,5 miliar selanjutnya akan dialokasikan untuk menyerap kerugian.

“Jadi modalnya turun jadi Rp 12,5 miliar dan kita minta (kenaikan) nilai tambah. Malah banyak juga pinjaman yang (modal disetor) melebihi Rp 25 miliar,” ujarnya. menambahkan.

Ogi memastikan tata kelola pinjaman akan dilakukan secara bertahap di Indonesia. Ia ingin ada aturan yang berimbang antara pelaku bisnis dan konsumen.

“Aturan pinjaman ini harus berimbang antara kepentingan konsumen dan pelaku. Kalau dari segi pelaku tidak menarik, pelaku industri akan hengkang. Kalau dari segi konsumen tidak menarik, dia juga bisa berteriak. Jadi , kita akan berorganisasi di tengah-tengah,” kata Ogi.

Saat ini OJK masih menetapkan moratorium perusahaan pemberi pinjaman. Data OJK menyebutkan hingga saat ini terdapat 102 perusahaan pemberi pinjaman.

Dari jumlah tersebut, 61 perusahaan pinjaman mencatat laba negatif. “Ada tiga yang ekuitasnya negatif. Ada 21 ekuitas di bawah 25 miliar. Kami masih punya waktu untuk mengeceknya,” ujarnya.

[Gambas:Video CNN]

(dzu/bir)