liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86

RI Sudah Sampai di Puncak Covid-19

RI Sudah Sampai di Puncak Covid-19

Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut peningkatan kasus Covid-19 di tanah air sudah mencapai puncaknya. Demikian kata BGS sapaan akrab Budi Gunadi Sadikin saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (12/1/2022).

“Kasus Covid-19 semakin meningkat, namun pantauan kami sudah mencapai puncaknya,” ujarnya.

Menurut BGS, ada alasan utama di balik ini. Utamanya terkait dengan positive rate (PR).

“Kalau kasus naik, PR naik 10-20, naik 100%, sebulan lagi naik 20-30 tapi 50% betul. Nanti 30 jadi 35 kemiringannya masih tinggi, masih ada peningkatan. sudah miring. Begitu turun dari 35 menjadi 30, itu tandanya sudah mencapai puncak, yang bisa kita lihat dari PR rate-nya,” ujar BGS.

“Kenapa kita bilang PR? Karena test kita di test, tidak semua orang di test atau kalau di test tidak lapor sendiri. Tapi PR kalau di test PR nya sedikit tinggi, makanya kita lihat dari angka Jadi sekarang PR kita down di seluruh Indonesia dan region besar harusnya down dalam satu atau dua minggu. Secara ilmiah ini down karena portfolio varian baru,” lanjutnya.

Pada kesempatan yang sama, BGS menyampaikan bahwa populasi subvarian Omicron XBB dan BQ.1 mencapai 80% kasus.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

“Mereka sudah mengambil alih BA.4 dan BA.5. Itu cirinya jenuh dan akan turun. Itu sebabnya kami berbeda, memprediksi volatilitas berdasarkan data PR secara empiris. Kami melihat ke belakang dan data varian genomik dalam satu minggu dan dua minggu .minggu akan turun, “kata BGS.

Lebih lanjut mantan Wakil Menteri BUMN itu mengatakan, saat ini jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit masih banyak yang belum mendapatkan vaksin booster. Secara rinci, 74% pasien tidak memiliki booster, 84% yang meninggal juga tidak memiliki booster.

“Sebanyak 50% yang meninggal tidak divaksinasi sama sekali. Jadi sekarang terlihat orang yang belum divaksinasi terlihat dan masih belum divaksinasi,” ujar BGS.

“Yang tidak berisiko dan meninggal tinggi karena 50% yang meninggal adalah orang yang belum divaksin. Kalau ada saudara, ibu, bapak, kakek, cepat divaksin karena berisiko tinggi,” lanjutnya. .

[Gambas:Video CNBC]

Artikel Berikutnya

Kabar Gembira Menkes: RI Telah Melewati Puncak Kasus BA.4 & BA.5

(miq/miq)